Pertahanan dan Keamanan

Departemen Kajian Pertahanan dan Keamanan mempunyai tugas melaksanakan penelaahan, penyusunan rencana dan program kebijakan pengkajian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kajian di bidang pertahanan, keamanan, hukum dan hak asasi manusia.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Departemen Kajian Pertahanan dan Keamanan menyelenggarakan fungsi :

pelaksanaan unsur penelaahan dan penyusunan rencana anggaran dan program kajian di bidang pertahanan, keamanan, hukum dan hak asasi manusia;

pelaksanaan unsur penelitian dan pengkajian strategik di bidang pertahanan, keamanan, hukum dan hak asasi manusia;

pelaksanaan unsur evaluasi dan penyusunan pelaporan pelaksanaan program kajian di bidang pertahanan, keamanan, hukum dan hak asasi manusia.

Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo,

Revolusi Mental Harus Berdasarkan Pancasila

                   SUBMITTED BY ADMIN ON 11 FEBRUARY 2015 – 7:27PM

Yayasan Tirta Amarta Paripurna telah minta saya menulis komentar untuk Buku Putih yang akan mereka terbitkan. Buku yang berisi kajian tentang berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini dan masa depan akan memperkaya Kepustakaan Indonesia. Buku Putih itu menyajikan berbagai pemikiran yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan oleh para pimpinan Pemerintah Pusat dan Daerah. Bagi masyarakat buku itu akan bermanfaat sebagai sumber pengetahuan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau kajian yang dilakukan  buku itu sungguh mempunyai nilai tinggi bagi Negara dan Bangsa. Meskipun Yayasan Tirta Amarta Paripurna telah selesai menyusun buku itu, penulis ingin menyampaikan satu saran yang mudah-mudahan dapat dilaksanakan dalam kegiatan pengkajian yang dilakukan Yayasan.

Akan makin bermanfaat kalau saran itu dipenuhi dengan memasukkan hasil kajiannya dalam buku yang akan diterbitkan ini. Saran penulis menyangkut masalah yang menjadi inti kebijakan pemerintah RI sekarang yang dipimpin Presiden RI Ir Djoko Widodo dan Wakil Presiden Drs Jusuf Kalla. Itu adalah kebijakan membangun Indonesia sebagai Poros Maritim dan Revolusi Mental. Sebab pernyataan oleh Pemerintah tentang dua masalah yang amat penting itu kurang sekali didukung dengan penjelasan mendalam tentang subyek masing-masing. Apa yang dimaksud secara mendasar dengan pengertian Pembangunan Poros Maritim dan bagaimana hubungannya dengan Wawasan Nusantara, satu konsep geopolitik dan geostrategi yang sejak tahun 1975 dipunyai NKRI setelah konsep itu diterima Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam usaha membangun Ketahanan Nasional Republik Indonesia.

Dalam Wawasan Nusantara ditegaskan bahwa NKRI terdiri atas bagian kelautan, daratan dan udara/angkasa yang harmonis. Wilayah nasional yang bersifat lautan luas sekali, baik sebagai wilayah nasional maupun sebagai Zone Ekonomi Eksklusif,  merupakan unsur pemersatu bagi wilayah nasional yang bersifat daratan, berupa pulau-pulau besar dan kecil yang memanjang di khatulistiwa. Kesatuan Lautan dan Daratan yang luas itu menjadikan kata TANAH AIR  satu kenyataan yang bagaikan satu Benua Maritim. Dan di atas wilayah lautan dan daratan yang bagaikan Benua Maritim itu  terbentang udara dan angkasa yang dalam Abad ke 21 makin memperkuat kesatuan Tanah Air Indonesia. Sebagai akibat dari letak geografis Indonesia, maka Tanah Air Indonesia merupakan satu posisi silang yang amat penting dalam makna geopolitik, geoekonomi dan geostrategi. Nilai tinggi Tanah Air Indonesia masih ditambah oleh besar dan banyaknya sumberdaya alam yang dikandungnya dengan kualitas cukup tinggi dan jumlah sumberdaya manusia yang besar serta mempunyai potensi yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan yang nyata. Kelemahan bangsa Indonesia adalah bahwa konsep yang dikandung dalam Wawasan Nusantara tidak memperoleh implementai dan perwujudan yang seharusnya sehingga kini segala potensi yang dikandung Tanah Air belum menjadikan bangsa Indonesia sejahtera serta kuat lahir dan batin. Bahkan potensi itu cenderung lebih dimanfaatkan bangsa-bangsa lain yang menjadi kaya karenanya. 

Nah, bagaimana relasi atau hubungan konsep Poros Maritim dengan Wawasan Nusantara yang digambarkan secara singkat itu. Yang tak kalah pentingnya adalah hubungan dan tempat konsep Revolusi Mental dengan Pancasila yang sejak tahun 1945 diterima sebagai dasar negara dan satu pandangan hidup atau Welt Anschauung seperti dikatakan Presiden Soekarno sebagai penggali Pancasila dari akar kehidupan bangsa Indonesia. Sebab belum pernah Presiden Jokowi sebagai pencetus konsep Revolusi Mental memberikan penjelasan tentang hal itu, bahkan tak pernah menyebut istilah Pancasila. Padahal Pancasila masih menjadi Dasar Negara RI sekalipun oleh banyak kalangan dilecehkan sejak terjadinya Reformasi pada tahun 1998. Dan jelas sekali bahwa Pancasila juga mengandung aspek mental, di samping aspek spiritual dan intelektual. Sebagai Presiden RI Ir. Djoko Widodo mempunyai kewajiban untuk membela Dasar Negara RI yang masih tetap Pancasila. Karena itu bagaimana hendak mewujudkan Revolusi Mental dalam masyarakat yang secara resmi mempunyai dasar Pancasila.

Yayasan Tirta Amarta Paripurna akan amat berjasa kepada bangsa Indonesia kalau dapat menyampaikan kajian tentang dua masalah ini. Itu sekurangnya akan menjadi awal dari pendalaman untuk dua konsep resmi pemerintah sekarang. Demikianlah komentar singkat untuk Buku Putih Yayasan Tirta Amarta, semoga ada manfaatnya bagi yayasan. Dan diharapkan respons positif terhadap komentar ini.

Muhammad Iqbal,

Perwujudan Kebermanfaatan bagi Sesama

              SUBMITTED BY ADMIN ON 11 FEBRUARY 2015 – 5:45PM

Lingkungan strategis Indonesia ditengah pengaruh perubahan geopolitik dunia semakin kompleks, sehubungan dengan adanya tuntutan terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa sejalan dengan kesadaran pertumbuhan demokrasi masyarakat. Lingkungan strategis tersebut mencakup aksi reaksi  dari lingkungan global, regional dan nasional  itu  bukanlah perkara yang mudah bagi kepemimpinan nasional periode 2014 – 2019 dalam menjawab kompleksitas tantangan yang akan diberikan, dalam cakupan lingkungan strategis, tanpa mengabaikan tujuan bangsa Indonesia, yang secara geografi memang sudah “dianugrahi” berada dalam posisi silang dan titik pertemuan perdagangan dunia, tentunya akan cepat menerima dampak dari perubahan dunia itu sendiri. Secara global, perkembangan yang perlu mendapatkan perhatian utamanya adalah ketidakpastian ekonomi dunia. Sementara perkembangan secara regional, kebangkitan ekonomi China, membawa dampak bagi dalam negeri Indonesia, pada bagian lain perubahan nasional terkini yang harus dihadapi adalah pergantian kepemimpinan nasional yang nyata-nyata membawa tuntutan nilai-nilai baru NKRI pada komponen strategis IPOLEKSOSBUDHANKAMIPTEK yang tidak dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Rentetan perubahan lingkungan strategis inilah yang perlu kiranya dijadikan perhatian khusus dalam membuat skenario strategis, untuk mengeliminir segala bentuk ancaman atau Threat yang akan dihadapi kedepan yang dapat mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini. Ancaman itu sendiri dapat berasal dari luar maupun dalam negeri atau dapat berasal dari aktor negara dan aktor non-negara.

Dalam upaya mengeliminir segala bentuk ancaman tersebut, maka salah satu hal fundamental yang perlu dikaji ulang adalah doktrin politik luar negeri Indonesia yang menyatakan “ribuan teman tanpa musuh” (thousands friends zero enemy) atau “keseimbangan dinamis” (dynamic equilibrium). Doktrin ini tentunya sangat lemah dalam kegiatan diplomasi dengan negara-negara lain, sementara sejauh ini Indonesia masih kurang “menunjukkan taring” daya saing pada diplomasi hubungan Internasional, utamanya dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Disamping itu, di dalam negeri pun kita dihadapi dengan beberapa ancaman pada komponen strategis seperti permasalahan Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan Keamanan, IPTEK, dan Demografi.  

Tirta Amarta yang terdiri dari berbagai kalangan dengan latar belakang berbeda dan multi sektor, sadar bahwa untuk kepentingan bangsa dan negera ke depan, permasalahan bangsa tidak akan bisa selesai dengan baik  apabila  masih memajukan ego sektoral. Ini adalah masalah utama yang terjadi, dimana banyak pemimpin bangsa lupa dengan hal ini, atau lemah secara managerial, yang kemudian menghambat kemajuan bangsa. Tirta Amarta bertekad, apapun yang dilakukan, baik secara individual maupun dalam lingkup Tirta Amarta sendiri, untuk selalu melakukan yang terbaik, untuk tidak terlepas dari cita-cita kemajuan bangsa, dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun (complexity theory), untuk selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, untuk pembangunan karakter dan integritas bangsa, dari apapun sumber daya yang dimilikinya saat ini.